Rabu, 02 Januari 2019

Anak Penyebab Lima Keburukan Bagi Orang tua



(Arrahmah.com) – Saat anak disebut sebagai cobaan hidup dalam Al Quran (Al Anfal: 28 dan At Taghabun: 15), maka para orangtua harus berhati-hati. Layaknya sebuah cobaan, sering kali menjerumuskan jika tidak lulus dari ujian tersebut. Potensi keburukan yang disebabkan oleh ujian tersebut harus diketahui sehingga bisa dijaga sedini mungkin oleh para orangtua, agar lulus dengan sempurna dari ujian anak.


Keasyikan orangtua menikmati keindahan anak. Kesibukan orangtua mengurus anak. Waktu dan kemampuan yang tersita untuk memakmurkan anak dan sebagainya menjadi masalah yang berakhir buruk bagi kehidupan orangtua jika tidak mengerti.


Ada 5 potensi keburukan dari keberadaan anak bagi orangtua yang tidak lulus dalam mendidik mereka menjadi anak yang baik dan menyejukkan mata. Berikut ini ke 5 potensi buruk itu:
Menjauhkan dari dzikir kepada Allah


Allah berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ


“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Qs Al Munafiqun: 9)


Dzikir adalah kewajiban seorang hidup di dunia. Mengingat Allah dalam keadaan apapun. Sedang dalam aktifitas apapun. Dan dengan berbagai cara; lisan, hati dan bukti perbuatan yang sesuai dengan keridhoan Nya.


Dzikir adalah bukti orangtua telah menjadi seorang hamba Allah yang baik.


Anak berpotensi menjadi penjauh dan penghalang orangtua dari dzikir dan mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga para orangtua harus menyeimbangkan dirinya antara menjaga amanah anak tersebut dengan kepentingan dirinya untuk menjadi hamba Allah yang baik.
Menyebabkan munculnya sifat pelit


Rasululloh bersabda:


إن الولد مبخلة مجبنة مجهلة محزنة


“Sesungguhnya anak menjadi penyebab sifat pelit, pengecut, bodoh dan sedih.” (HR. Hakim dan Thabrani, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ hadits no. 1990)


Pelit pada akhirnya berhubungan dengan harta. Orangtua yang merasa terbebani dengan amanah anak yang memerlukan biaya besar dalam mendidik mereka, berubah menjadi orangtua yang pelit. Padahal pada harta kita tidak hanya ada hak anak. Tetapi ada banyak orang lain yang berhak terhadap harta kita.


Ini artinya, para orangtua harus tetap menjaga sifat dermawan walaupun tugas membesarkan anak-anak memerlukan biaya yang tidak kecil.
Penyebab munculnya sifat pengecut


Dalam hadits tersebut di atas, Rasululloh menyebutkan bahwa anak bisa menyebabkan tumbuhnya sifat pengecut dalam hati orangtua.


Kecintaan orangtua terhadap anak. Rasa takut kehilangan mereka. Tidak mau berpisah jauh dari mereka. Semua ini bisa membuat orangtua mendadak menjadi seorang pengecut dalam menghadapi kehidupan ini. Rasa takut begitu dominan. Takut mati tiba-tiba hadir. Tidak berani bertindak tegas dalam hidupnya dengan alasan keberadaan anak-anak.


Maka, para orangtua harus tetap memiliki sifat berani dalam mengarungi dan memutuskan langkah dalam hidup ini. Ada saat harus bahagia bersama mereka. Ada saat harus berpisah jauh dari mereka. Ada saat mereka bisa dipenuhi kebutuhannya. Ada saat keputusan harus diambil dalam hidup orangtua walau berisiko kehidupan anak-anak harus lebih prihatin.


Bersandar kepada Allah yang Maha Pemberi dan keyakinan bahwa apa saja yang dititipkan kepada Allah tak akan pernah rusak dan hilang, akan membuat orangtua tidak kehilangan keberaniannya dalam mengarungi tugas hidup di dunia.
Penyebab kebodohan


Hadits Nabi di atas menyebutkan bahwa anak juga bisa menyebabkan kebodohan bagi orangtuanya. Kebodohan berhubungan dengan ilmu.


Orangtua yang terlalu sibuk mengurusi anaknya, memperhatikan mereka, sering menjadikan anak sebagai alasan dari ketidakberilmuan dirinya. Kesempatan belajar memang jadi berkurang. Minat belajar juga mulai pupus, seiring kelelahan fisik yang mendera karena kesibukan bersama anak-anak dan untuk mereka.


Tetapi kebodohan tidak boleh terjadi pada kehidupan orangtua. Apalagi ilmu adalah modal untuk mendidik mereka. Bagaimana diharapkan keberhasilan pendidikan anak, jika orangtuanya menghapus ilmu baik mereka dengan tindakan dan lisan orangtua tanpa disadari. Semuanya berawal dari kosongnya kepala orangtua dari ilmu.


Sehingga, anak tidak boleh menjadi alasan orangtua hilang kesempatan menuntut ilmu. Orangtua harus tetap mempunyai waktu dan tenaga untuk belajar dan terus belajar.
Penyebab kesedihan


Di akhir hadits disebutkan bahwa anak bisa menyebabkan kesedihan bagi orangtua. Banyak faktornya. Anak sakit umpamanya, bisa jadi hanya sakit panas biasa. Tetapi orangtua bisa sangat panik karenanya. Kepanikan itu menyebabkan terhentinya banyak kebaikan. Atau kesedihan yang disebabkan oleh ulah anak di rumah atau di luar rumah.


Kesedihan sering bermunculan disebabkan oleh anak. Maka ini peringatan dari Nabi, agar para orangtua menjaga kestabilan jiwanya. Kesedihan adalah hal yang manusiawi. Tetapi kesedihan tidak boleh terus menerus meliputi seluruh kehidupan kita bersama anak-anak. Juga, kesedihan tidak boleh menghentikan potensi kebaikan dan amal shaleh para orangtua.


Ya jadikanlah anak-anak kami kebaikan bagi kami.


Amin…


Ustadz Budi Ashari, Lc.

Keshalihan Orang Tua Adalah Asuransi Terbaik Untuk Anaknya



(Arrahmah.com) – Bukti cinta orang tua sepanjang jalan adalah mereka memikirkan masa depan anaknya. Mereka tidak ingin anak-anak kelak hidup dalam kesulitan. Persiapan harta pun dipikirkan masak-masak dan maksimal.


Para orang tua sudah ada yang menyiapkan tabungan, asuransi bahkan perusahaan. Rumah pun telah dibangunkan, terhitung sejumlah anak-anaknya. Ada juga yang masih bingung mencari-cari bentuk penyiapan masa depan terbaik. Ada yang sedang memilih perusahaan asuransi yang paling aman dan menjanjikan. Tetapi ada juga yang tak tahu harus berbuat apa karena ekonomi hariannya pun pas-pasan bahkan mungkin kurang.


Bagi yang telah menyiapkan tabungan dan asuransi, titik terpenting yang harus diingatkan adalah jangan sampai kehilangan Allah. Hitungan detail tentang biaya masa depan tidak boleh menghilangkan Allah yang Maha Tahu tentang masa depan. Karena efeknya sangat buruk. Kehilangan keberkahan. Jika keberkahan sirna, harta yang banyak tak memberi manfaat kebaikan sama sekali bagi anak-anak kita.


Lihatlah kisah berikut ini:


Dalam buku Alfu Qishshoh wa Qishshoh oleh Hani Al Hajj dibandingkan tentang dua khalifah di jaman Dinasti Bani Umayyah: Hisyam bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz. Keduanya sama-sama meninggalkan 11 anak, laki-laki dan perempuan. Tapi bedanya, Hisyam bin Abdul Malik meninggalkan jatah warisan bagi anak-anak laki masing-masing mendapatkan 1 juta Dinar. Sementara anak-anak laki Umar bin Abdul Aziz hanya mendapatkan setengah dinar.


Dengan peninggalan melimpah dari Hisyam bin Abdul Malik untuk semua anak-anaknya ternyata tidak membawa kebaikan. Semua anak-anak Hisyam sepeninggalnya hidup dalam keadaan miskin. Sementara anak-anak Umar bin Abdul Aziz tanpa terkecuali hidup dalam keadaan kaya, bahkan seorang di antara mereka menyumbang fii sabilillah untuk menyiapkan kuda dan perbekalan bagi 100.000 pasukan penunggang kuda.


Apa yang membedakan keduanya? KEBERKAHAN.


Kisah ini semoga bisa mengingatkan kita akan bahayanya harta banyak yang disiapkan untuk masa depan anak-anak tetapi kehilangan keberkahan. 1 juta dinar (hari ini sekitar Rp 2.000.000.000.000,-) tak bisa sekadar untuk berkecukupan apalagi bahagia. Bahkan mengantarkan mereka menuju kefakiran.


Melihat kisah tersebut kita juga belajar bahwa tak terlalu penting berapa yang kita tinggalkan untuk anak-anak kita. Mungkin hanya setengah dinar (hari ini sekitar Rp 1.000.000,-) untuk satu anak kita. Tapi yang sedikit itu membaur dengan keberkahan. Ia akan menjadi modal berharga untuk kebesaran dan kecukupan mereka kelak. Lebih dari itu, membuat mereka menjadi shalih dengan harta itu.


Maka ini hiburan bagi yang hanya sedikit peninggalannya.


Bahkan berikut ini menghibur sekaligus mengajarkan bagi mereka yang tak punya peninggalan harta. Tentu sekaligus bagi yang banyak peninggalannya.


Bacalah dua ayat ini dan rasakan kenyamanannya,


Ayat yang pertama,


وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ


“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (Qs. Al Kahfi: 82)


Ayat ini mengisahkan tentang anak yatim yang hartanya masih terus dijaga Allah, bahkan Allah kirimkan orang shalih yang membangunkan rumahnya yang nyaris roboh dengan gratis. Semua penjagaan Allah itu sebabnya adalah keshalihan ayahnya saat masih hidup.


Al Qurthubi rahimahullah menjelaskan,


“Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada dirinya dan pada anaknya walaupun mereka jauh darinya. Telah diriwayatkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada tujuh keturunannya.”


Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menukil kalimat Hannadah binti Malik Asy Syaibaniyyah,


“Disebutkan bahwa kedua (anak yatim itu) dijaga karena kesholehan ayahnya. Tidak disebutkan kesholehan keduanya. Antara keduanya dan ayah yang disebutkan keshalihan adalah 7 turunan. Pekerjaannya dulu adalah tukang tenun.”


Selanjutnya Ibnu Katsir menerangkan,


“Kalimat: (dahulu ayah keduanya orang yang sholeh) menunjukkan bahwa seorang yang shalih akan dijaga keturunannya. Keberkahan ibadahnya akan melingkupi mereka di dunia dan akhirat dengan syafaat bagi mereka, diangkatnya derajat pada derajat tertinggi di surga, agar ia senang bisa melihat mereka, sebagaimana dalam Al Quran dan Hadits. Said bin Jubair berkata dari Ibnu Abbas: kedua anak itu dijaga karena keshalihan ayah mereka. Dan tidak disebutkan kesholehan mereka. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa ia adalah ayahnya jauh. Wallahu A’lam


Ayat yang kedua,


إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ


“Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (Qs. Al A’raf: 196)


Ayat ini mengirimkan keyakinan pada orang beriman bahwa Allah yang kuasa menurunkan al Kitab sebagai bukti rahmatNya bagi makhlukNya, Dia pula yang akan mengurusi, menjaga dan menolong orang-orang shalih dengan kuasa dan rahmatNya. Sekuat inilah seharusnya keyakinan kita sebagai orang beriman. Termasuk keyakinan kita terhadap anak-anak kita sepeninggal kita.


Untuk lebih jelas, kisah orang mulia berikut ini mengajarkan aplikasinya.


Ketika Umar bin Abdul Aziz telah dekat dengan kematian, datanglah Maslamah bin Abdul Malik. Ia berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, engkau telah mengosongkan mulut-mulut anakmu dari harta ini. Andai anda mewasiatkan mereka kepadaku atau orang-orang sepertiku dari masyarakatmu, mereka akan mencukupi kebutuhan mereka.”


Ketika Umar mendengar kalimat ini ia berkata, “Dudukkan saya!”


Mereka pun mendudukkannya.


Umar bin Abdul Aziz berkata, “Aku telah mendengar ucapanmu, wahai Maslamah. Adapun perkataanmu bahwa aku telah mengosongkan mulut-mulut anakku dari harta ini, demi Allah aku tidak pernah mendzalimi hak mereka dan aku tidak mungkin memberikan mereka sesuatu yang merupakan hak orang lain. Adapun perkataanmu tentang wasiat, maka wasiatku tentang mereka adalah: ((إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ)). Anaknya Umar satu dari dua jenis: shalih maka Allah akan mencukupinya atau tidak sholeh maka aku tidak mau menjadi orang pertama yang membantunya dengan harta untuk maksiat kepada Allah.” (Umar ibn Abdil Aziz Ma’alim At Tajdid wal Ishlah, Ali Muhammad Ash Shalaby)


Begitulah ayat bekerja pada keyakinan seorang Umar bin Abdul Aziz. Ia yang telah yakin mendidik anaknya menjadi shalih, walau hanya setengah dinar hak anak laki-laki dan seperempat dinar hak anak perempuan, tetapi dia yakin pasti Allah yang mengurusi, menjaga dan menolong anak-anak sepeninggalnya. Dan kisah di atas telah menunjukkan bahwa keyakinannya itu benar.


Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang khalifah besar yang berhasil memakmurkan masyarakat besarnya. Tentu dia juga berhak untuk makmur seperti masyarakatnya. Minimal sama, atau bahkan ia punya hak lebih sebagai pemimpin mereka. Tetapi ternyata ia tidak meninggalkan banyak harta. Tak ada tabungan yang cukup. Tak ada usaha yang mapan. Tak ada asuransi seperti hari ini.


Tapi tidak ada sedikit pun kekhawatiran. Tidak tersirat secuil pun rasa takut. Karena yang disyaratkan ayat telah ia penuhi. Ya, anak-anak yang shalih hasil didikannya.


Maka izinkan kita ambil kesimpulannya: 
Bagi yang mau meninggalkan jaminan masa depan anaknya berupa tabungan, asuransi atau perusahaan, simpankan untuk anak-anak dari harta yang tak diragukan kehalalannya. 
Hati-hati bersandar pada harta dan hitung-hitungan belaka. Dan lupa akan Allah yang Maha Mengetahui yang akan terjadi. 
Jaminan yang paling berharga –bagi yang berharta ataupun yang tidak-, yang akan menjamin masa depan anak-anak adalah: keshalihan para ayah dan keshalihan anak-anak. 


Dengan keshalihan ayah, mereka dijaga.


Dan dengan keshalihan anak-anak, mereka akan diurusi, dijaga, dan ditolong Allah.


Oleh: Ustadz Budi Ashari, Lc.

Sisa Umur Umat Islam, Seperti Jarak Antara Ashar Hingga Matahari Terbenam



Oleh: Abu Fatiah Al-Adnani | Pakar Kajian Akhir Zaman


(Arrahmah.com) – Di antara pembahasan akhir zaman yang mengundang kontroversi adalah persoalan umur umat Islam. Buku yang sempat menghebohkan umat Islam lantaran mengangkat persoalan هرمجدون آخر بيان يا أمة الإسلام. Ditulis oleh Amin Muhammad Jamaluddin. Dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia berjudul Huru-hara Akhir Zaman.


إِنَّمَا أَجَلُكُم فِي أَجَلِ مَنْ خَلَا مِنَ الْأُمَمِ مَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعَصْرِ وَمَغْرِبِ الشَّمْسِ


“Sesungguhnya ajal kalian dan ajal umat-umat yang telah lalu hanyalah seperti masa antara shalat ashar dan tenggelamnya matahari.”


(HR. Al-Bukhari no. 3459)


Mengomentari buku yang menghebohkan ini, Al-Ustadz Hamid bin Abdillah Al-‘Ali mengatakan bahwa beliau tetap menghargai niat dan usaha penulisnya untuk mengingatkan umat Islam akan datangnya hari kiamat. Dan beliau juga berpesan agar para pembaca buku ini tidak gampang bersu’uzhan kepada penulisnya. Namun beliau juga mengingatkan kepada penulis buku ini agar tidak menggunakan rujukan yang tidak ada sumber hadits yang kuat dan menghindari hadits palsu.


Pangkal yang menjadi pembahasan umur umat Islam adalah berangkat dari hadits tentang sisa ajal (umur) Umat Islam sebagaimana yang termuat dalam riwayat berrikut:


“Perumpamaan kaum Muslimin dan Yahudi serta Nasrani, seperti perumpamaan seorang yang mengupah satu kaum (Yahudi) untuk melakukan sebuah pekerjaan sampai malam hari, namun mereka melakukannya hanya sampai tengah hari. Lalu mereka pun berkata, “Kami tidak membutuhkan upah yang engkau janjikan pada kami, dan apa yang telah kami kerjakan, semuanya bagi-mu” Ia pun berkata, “Jangan kalian lakukan hal itu, sempurnakanlah sisa waktu pekerjaan kalian dan ambillah upah kalian dengan sempurna”. Mereka (Yahudi) pun menolak dan meninggalkan orang itu. Maka orang itu mengupah beberapa orang (Nasrani) selain mereka (Yahudi), ia berkata: “Kerjakanlah sisa hari kalian dan bagi kalian upah yang telah aku janjikan untuk mereka (Yahudi)”. Sehingga ketika tiba waktu sholat Ashar, mereka (Nasrani) berkata, “Ambillah apa yang telah kami kerjakan untukmu dan juga upah yang engkau sediakan untuk kami.” Orang itu berkata, “Sesungguhnya sisa waktu siang tinggal sedikit.” Mereka (Nasrani) tetap menolak, sehingga orang itu mengupah satu kaum yang lain (Muslimin) untuk melanjutkan pekerjaan sehingga selesai sisa hari mereka (Nasrani). Maka kaum itu (Muslimin) pun bekerja pada sisa hari mereka (Nasrani), yaitu sehingga terbenamnya matahari dan mereka pun mendapat upah yang sempurna yang dijanjikan kepada dua kelompok sebelumnya. Seperti itulah perumpamaan mereka (Yahudi dan Nasrani) dan perumpamaan apa yang kalian (Muslimin) terima pada cahaya (hidayah) ini.[1]


Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


إِنَّمَا أَجَلُكُم فِي أَجَلِ مَنْ خَلَا مِنَ الْأُمَمِ مَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعَصْرِ وَمَغْرِبِ الشَّمْسِ


“Sesungguhnya ajal kalian dan ajal umat-umat yang telah lalu hanyalah seperti masa antara shalat ashar dan tenggelamnya matahari.” (HR. Al-Bukhari no. 3459)


Juga disebutkan dari Ibnu Umar, ia berkata, “Kami duduk di sisi Rasulullah Saw dan waktu itu matahari sudah tertutup gunung Qauqi’ain setelah Ashar, Nabi bersabda: Tiadalah umur kalian dibandingkan dengan umur orang dahulu kecuali seperti sisa siang hari yang sudah lewat. (Musnad Ahmad 8/176)


Hadits-hadits di atas semuanya menunjukkan bahwasanya apa yang tersisa dari umur dunia dibandingkan umurnya yang telah lalu adalah waktu yang sangat sedikit. Umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kaum terakhir yang hidup di muka bumi, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul terakhir yang Allah subhanahu wa ta’ala utus kepada manusia.


Rasulullah saw memberikan perumpamaan bahwa sisa umur umat Islam seperti sisa waktu ashar hingga terbenamnya matahari. Karena dalam riwayat lain disebutkan bahwa umur orang Yahudi seperti jarak antara waktu Shubuh dengan Dhuhur, sedang umur orang Nashrani seoerti jarak antara waktu Dhuhur dengan waktu Ashar. Maka terbenamnya matahari bisa bermakna berakhirnya umur umat Islam, yaitu ketika datangnya angin lembut yang mencabut setiap nyawa yang di dalam hatinya ada keimanan walapun sebesar biji sawi. Batas waktu tersebut menggambarkan jarak yang sangat dekat dengan peristiwa kiamat, sebab yang tersisa di muka bumi tinggal orang kafir, dimana kiamat dalam bentuk kehancuran alam semesta akan menimpa kepada mereka. Dengan demikian waktu maghrib adalah waktu dekatnya kiamat dan waktu setelahnya bisa juga bermakna hari akhir atau kehidupan akhirat. Wallahu a’lam bish shawab.


Pesan yang tersirat di balik perumpamaan umur umat Islam seperti sisa waktu antara Ashar hingga Maghrib


Ada yang menarik untuk direnungkan ketika Rasulullah saw menggambarkan bahwa kehidupan kita sekarang seperti kondisi bada Ashar. Pada saat yang sama Allah swt mengingatkan manusia akan pentingnya memperhatikan waktu Ashar. Allah berfirman: Demi waktu Ashar (wal Ashri). Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. (Al-Ashr ;1-3)


Para ulama menjelaskan bahwa apabila Allah swt bersumpah dengan makhluk-Nya, maka itu merupakan isyarat agar manusia memperhatikan apa yang menjadi objek sumpah tersebut. Karena, pasti hal itu sangat penting untuk dan memiliki makna yang sangat mendalam. Maka, dalam hal ini Allah menginginkan agar manusia memperhatikan waktu Asharnya.


Kalau kita perhatikan secara umum, ternyata perilaku kebanyakan manusia dalam menggunakan waktu bada ashar sangat tergantung dengan rencana dan planing mereka di waktu isya dan setelahnya. Jika mereka memiliki rencana, program dan pekerjaan penting, maka mereka akan menggunakan waktu Asharnya untuk menyiapkannya. Namun bila mereka tidak memiliki rencana dan planing besar untuk bada Isya-nya, maka kebanyakan kita cenderung santai dan menggunakan waktu Ashar untuk hal hal yang tidak bernilai.


Jika hal itu kita kiaskan dengan perbandingan umur umat Islam dan perjalanan waktunya, maka bisa kita simpulkan bahwa sikap hidup manusia di dunia (tentang bagaimana mereka menggunakan usia dan mengisi kehidupannya), semua sangat tergantung dengan rencana dan program dia nanti dalam kehidupan alam barzakh dan akhiratnya.


Karenanya, visi dan paradigma manusia tentang kehidupan di dunia sangat tergantung dengan rencana dan planing mereka tentang kehidupan akhiratnya. Bagi orang beriman, karena dia akan merencanakan kehidupan akhirat yang terbaik (surga), maka dia akan mengisi waktu dalam kehidupannya untuk memperbanyak bekal bagi kehidupan akhiratnya. Seorang mukmin sadar bahwa surga sangat mahal, maka harus ditebus dengan amalan spesial yang bisa mendatangkan rahmat Allah swt.


Allah mengingatkan orang-orang beriman untuk tidak meniru gaya dan lifestyle orang kafir, dimana kebanyakan orang kafir menjadikan dunia seperti taman bunga yang membuat mereka tergoda untuk memetiknya.


Allah berfirman:


لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ


Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya. [Ali Imran / 3 : 196-197]


Dalam ayat lain disebutkan:


وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى (131)


Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Rabb kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. Thaha 131)






Maka, bagi orang kafir dunia seperti bunga yang merah merona, segar, cantik, indah dan bau harumnya menggoda seseorang untuk memetiknya. Namun, begitu bunga tadi dipetik, maka tak berapa lama bau harumnya akan hilang, keindahannya akan pudar, merah segarnya akan segera layu, lalu mengering dan hilang ditiup angin.


Begitulah kehidupan orang kafir, semua capaian materi duniawi yang berhasil mereka peroleh, seperti bunga yang bentuk dan bau harumnya menggoda. Namun setelah mereka mencapai semua kenikmatan materi tadi, maka dunia yang mereka peroleh harus ditinggalkan begitu saja saat ajal telah mendatanginya.


Adapun bagi orang beriman, dunia adalah ladang amal, negeri bercocok tanam. Bunga bukanlah hasil akhir. Musim bunga bukanlah waktu untuk memanen. Justru masa itu merupakan permulaan untuk menjadi buah yang kelak akan dipanen.


Orang beriman akan bersungguh-sungguh menggunakan waktunya di dunia untuk beramal sebanyak yang bisa dilakukannya, pada saat yang sama mereka akan menikmati sekedar kebutuhannya. Selebihnya akan mereka jadikan sebagai tabungan amal yang kelak dipetiknya saat berjumpa dengan Allah swt.

Doa Minta Ampun atas Ucapan tanpa Perbuatan (Omdo)


Manusia tak pernah luput dari kesalahan dan lupa, dan kedua unsur tersebut merupakan anugerah dari Allah SWT. Andai saja kita tidak dianugerahi lupa, maka seorang ibu yang melahirkan tentunya tak akan mau melahirkan lagi, mengingat rasa sakit yang dialami olehnya.


Kemudian sering kali kita melakukan kesalahan yang bersumber dari kelupaan, andai saja Allah SWT menghitungnya, tak dapat kita bayangkan berapa banyak dosa kita.


Di antara sesuatu yang sering terabaikan dan terlupakan oleh kita adalah ucapan kita sendiri yang berupa perintah kepada orang lain, saran maupun nasihat. Padahal Allah berfirman di dalam Al-Qur`an surat ash-Shaff mengenai orang yang tidak mengamalkan apa yang ia ucapkan.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۞ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ


Artinya, Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan,” (Surat As-Shaff ayat 2-3).






Ayat di atas tentunya menjadi teguran bagi kita. Berapa banyak perkataan manis dan baik yang keluar dari mulut kita namun kita dustai dengan tidak melaksanakannya. Maka sebagai manusia, barang kali kita lupa akan ucapan yang telah kita ucapkan sehingga tidak mengamalkannya.

Ada doa yang tercatum dalam Syair Burdah yang dikarang oleh Imam Al-Bushiri:


أَسْتَغْفِرُ الَّلهَ مِنْ قَوْلٍ بِلاَعَمَــلٍ

Artinya, “Aku mohon ampun kepada Allah dari ucapan tanpa disertai amal.”


Semoga dengan membaca doa ini, dosa dari kesalahan berupa tidak mengamalkan sesuatu yang kita ucapkan dapat diampuni oleh Allah SWT. Amiin… (Amien Nuhakim)


(FotoManusia tak pernah luput dari kesalahan dan lupa, dan kedua unsur tersebut merupakan anugerah dari Allah SWT. Andai saja kita tidak dianugerahi lupa, maka seorang ibu yang melahirkan tentunya tak akan mau melahirkan lagi, mengingat rasa sakit yang dialami olehKemudian sering kali kita melakukan kesalahan yang bersumber dari kelupaan, andai saja Allah SWT menghitungnya, tak dapat kita bayangkan berapa banyak dosa kita.


Di antara sesuatu yang sering terabaikan dan terlupakan oleh kita adalah ucapan kita sendiri yang berupa perintah kepada orang lain, saran maupun nasihat. Padahal Allah berfirman di dalam Al-Qur`an surat ash-Shaff mengenai orang yang tidak mengamalkan apa yang ia ucapkan.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۞ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ


Artinya, Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan,” (Surat As-Shaff ayat 2-3).


Ayat di atas tentunya menjadi teguran bagi kita. Berapa banyak perkataan manis dan baik yang keluar dari mulut kita namun kita dustai dengan tidak melaksanakannya. Maka sebagai manusia, barang kali kita lupa akan ucapan yang telah kita ucapkan sehingga tidak mengamalkannya.

Ada doa yang tercatum dalam Syair Burdah yang dikarang oleh Imam Al-Bushiri:

أَسْتَغْفِرُ الَّلهَ مِنْ قَوْلٍ بِلاَعَمَــلٍ

Artinya, “Aku mohon ampun kepada Allah dari ucapan tanpa disertai amal.”

Semoga dengan membaca doa ini, dosa dari kesalahan berupa tidak mengamalkan sesuatu yang kita ucapkan dapat diampuni oleh Allah SWT. Amiin… (Amien Nuhakim)

Selasa, 01 Januari 2019

Habluminannas



Allah memerintahkan manusia untuk saling menyayangi dan berbuat baik satu dengan yang lainnya. Allah mengatur masalah hubungan yang baik sesama manusia antara lain tentang :
Mendahulukan kepentingan orang lain yang lebih penting (QS 2:177, 59:9),
Berbuat baik adalah merupakan sebaik-baik amalan (QS 3:92, 3:134),
Menyempurnakan takaran dan timbangan, serta tidak merugikan orang lain (QS 7:85, 11:84, 11:85, 17:35, 26:181, dsb) – mengurangi takaran termasuk korupsi kecil-kecilan.
Berinfak atau memberikan sebagian rizki kepada orang lain yang membutuhkan (QS 2:254, 3:92, 14:31, 32:16, 35:29, 42:38, dsb)
Tolong menolong dan kasih sayang (QS 5:2, 48:29, 24:22, 90:17)


Kesimpulannya adalah segala perbuatan baik kepada sesama manusia, tidak merugikan orang lain, tolong menolong dan kasih sayang memang diperintahkan oleh Allah kepada manusia, artinya hubungan baik kepada sesama manusia itu dalam rangka hubungan baik kepada Allah (dalam rangka melaksanakan perintah Allah).


Dengan kata lain habluminannas dalam rangka habluminallah. Keduanya sejalan dan tidak untuk dipertentangkan. Orang yang mengabaikan habluminannas selain mendapatkan murka dari Allah dan konsekuensi di akhirat, juga akan menerima konsekuensi dari sesama manusia lainya yaitu berupa perlakuan atau sanksi atau hukuman dari aturan/hukum atau norma masyarakat di mana ia berada.

PROGRAM KERJA IPHI SEBAGAI REFERENSI

  Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) adalah sebuah organisasi yang berfokus pada membantu jamaah haji Indonesia dalam mempersiapkan d...